Inspirasi

Ketika saya lulus S1 dari jurusan Teknik Fisika ITS, begitu banyak keinginan yang ingin saya lakukan. Ingin masuk ke dunia engineering,  kuliah S2, travelling, membuat channel pendidikan di youtube, bisnis forex, bisnis bitcoin, bisnis laundry, dan banyak hal lain yang ingin saya lakukan. Bagi seorang yang memiliki banyak keinginan seperti saya, memang akan sangat susah menentukan hal apa yang akan menjadi fokus kedepannya.

Setelah bergalau ria (sambil melamar pekerjaan), saya putuskan untuk bekerja terlebih dahulu, tapi sambil mencari pekerjaan, tetap mencoba ide-ide bisnis yang selalu muncul di kepala. Apa yang saya putuskan (untuk fokus mencari pekerjaan), ternyata hanya keinginan semu semata. Karena saya bukan tipe orang yang ‘menyukai’ diperintah orang lain. Akhirnya setelah diterima di beberapa perusahaan, hanya kata penolakan yang akhirnya keluar dari diri saya.

Berbagai macam alasan saya keluarkan, mulai dari tempatnya yang jauh, gaji yang tidak sesuai, tidak boleh orang tua, tidak cocok dengan keinginan pribadi, tapi sejatinya alasan yang paling benar adalah Saya memang tidak mau untuk bekerja. Hal yang saya inginkan adalah memiliki bisnis sendiri, membangun dunia sendiri, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, menjadi orang yang berpengaruh, dan tidak terkekang oleh kehendak orang lain.

Namun, setelah menganggur sekitar 8 bulan, bersamaan dengan banyaknya rupiah yang hilang karena kegagalan bisnis, saya mulai sadar satu hal. Bahwa segala sesuatu yang kita inginkan, membutuhkan proses agar bisa diwujudkan. Kalau ingin sukses berbisnis, butuh proses belajar tentang bisnis. Kalau ingin sukses menjadi pekerja, butuh proses belajar tentang bidang keahlian di pekerjaan yang diambil. Intinya, segala sesuatu membutuhkan proses dan saya bukan tipe orang yang mau untuk menunggu lama untuk menghasilkan sesuatu. Bahasa sederhananya, orang yang tidak sabaran.

Mungkin apa yang saya tulis disini terkesan berlebihan. Tapi itulah kenyataannya! Bagi orang yang punya banyak keinginan, namun tidak punya ketegasan hati untuk memilih, kondisi transisi semacam lulus kuliah sangat menyiksa diri. Pilihannya, antara mengikuti arus kebanyakan orang, atau memilih jalan hidup sendiri. Antara menjadi sama dengan yang lain, atau menjadi diri sendiri. Antara menjadi bagian masyarakat umum, atau menjadi pribadi yang siap berbeda.

Setelah puas gagal dengan bisnis yang saya jalani selama 8 bulan (sebelum bekerja), saya dengan matang memutuskan untuk bekerja dibidang yang saya bisa belajar di dalamnya. Akhirnya di bulan ke-9 setelah lulus kuliah, saya bergabung dengan salah satu perusahaan yang sedang berkembang di Surabaya. Dan rasanya saya menemukan tempat yang benar-benar saya inginkan. Sebuah tempat kerja nyata, yang setiap kesempatan memberikan saya pelajaran tentang kehidupan dan bisnis.

Ternyata dunia tidak sebatas apa yang saya pikirkan. Banyak sekali yang belum saya ketahui, dan setiap menemui masalah baru, saya selalu bersemangat untuk menyelesaikannya. Entah masalah itu selesai atau tidak, yang penting saya telah berusaha dan HARUS mendapatkan pelajaran darinya.

Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah Dunia ini sangat luas, jangan membatasi diri dengan pikiran-pikiran sempit yang seolah-olah luas. Bisa jadi apa yang menurutmu baik, ternyata tidak baik untukmu. Dan bisa jadi pula apa yang menurutmu kurang baik, ternyata adalah hal yang terbaik yang Tuhan siapkan untukmu.

Keluarlah dari penjara pikiran, keluarlah mengenal dunia. Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tetap bertahan meskipun raga tak kuat menahan lelah. Berjanjilah untuk tetap tersenyum meskipun ingin berteriak memaki dunia. Karena hidup hanya sekali, jangan sampai menyesal. hehe

Thank you.

Inspirasi, Quotes

Apa yang anda bayangkan ketika melihat sekumpulan anak-anak, bermain penuh kegembiraan, tak ada sekat yang memisahkan mereka, tak ada kepentingan lain yang mereka pikirkan selain bermain. Sejujurnya saya rindu dengan masa dimana bemain adalah tugas utama, tanpa berfikir apa yang akan dimakan besok, tanpa berfikir apa yang orang lain akan pikirkan.

Mungkin pada saat kecil kita dikekang oleh orang tua, tidak boleh melakukan hal ini dan itu. Namun yang dilakukan seorang anak kecil polos hanyalah menangis, setelah itu orang tua menenangkan anaknya, dan masalah pun selesai. Sungguh berbeda dengan dunia dewasa yang sekarang saya jalani, sungguh rumit ketika masalah terjadi. Sebuah kesalahan kecil bisa menjadi beban moral seumur hidup, seorang teman bisa menjadi musuh hanya karena sesuatu yang wajar. Apakah anda merasakan hal yang sama?

Hal yang selalu saya tekankan ketika berada dalam suatu organisasi, adalah kejujuran dan keadilan. Hal ini bukan tanpa alasan. Saya ingin merasakan segala sesuatu terbuka dan penuh dengan kasih sayang. Jika kamu menyakiti orang lain, minta maaflah. Jika kamu disakiti orang lain, maafkanlah dia. Mudah bukan? Terkadang orang-orang dengan emosi yang labil, menganggap sebuah masalah kecil sebagai bom waktu yang akan menghancurkan dunia ini. Kenapa tidak terbuka saja? Seperti waktu kecil, kalau tidak suka bermain dengan seseorang, ya jangan bermain dengannya. Kalau ada masalah, omongkan di depan wajahnya namun bersedialah menerima kritik jika ternyata kita yang salah.

Lakukan apa yang kita inginkan, namun tetap perhatikan bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang memiliki akal di dunia ini. Haha, tulisan ini mungkin tidak tertata dengan baik. Namun, yang ingin saya katakan adalah, jadilah orang yang terbuka dan bersedia menjadi lebih baik. Kalau ada masalah, selesaikan! Tidak akan ada masalah yang selesai, jika tidak diselesaikan. Jika tidak suka, ungkapkan! Tapi lakukan dengan cara yang baik, dan berikan saran agar apa yang tidak kamu suka menjadi lebih baik.

Kebahagiaan tidak datang dari orang lain, kebahagiaan muncul dari diri kita sendiri. Ketika kita bisa menerima segala sesuatu sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka disanalah kebahagiaan bermula. 🙂

Inspirasi

Saya mengenal seorang wanita, namanya Nela. Entah karena bawaan lahir atau memang kebiasaan, dia tidak pernah lepas dari senyuman. Dia adalah teman saya waktu kuliah di Teknik Fisika ITS, saya cukup mengenalnya karena kami sering tergabung dalam beberapa kegiatan organisasi ataupun akademik. Tapi tulisan ini bukan untuk membahas dia, melainkan hanya sebuah kata yang selalu terbayang darinya, ‘senyuman’.

Mulai bulan Juni 2016, saya tergabung di PT Coffee Toffee Indonesia. Sebuah langkah yang saya ambil untuk menempa diri dan belajar dalam dunia manajemen, hal yang selama kuliah jarang sekali saya pelajari. Meskipun pendidikan yang saya tempuh berbasis teknik, saya lebih suka belajar tentang manajemen, terutama manajemen manusia. Entah, tidak ada yang mengajari, mungkin ini yang namanya jalan hati, aseek.

Sesuai teori yang sering saya dengar dari orang-orang yang lebih senior, bekerja memang lebih menantang daripada hanya mengerjakan tugas kuliah. Terlebih pekerjaan yang saya masuki melenceng jauh dari basic pendidikan yang 4 tahun dijalani. Pada bulan pertama bekerja, saya merasa bahwa tugas-tugas ini begitu banyak dan menumpuk, seolah-olah sangat sulit untuk diselesaikan. Tapi Alhamdulillah, semakin lama menjalani pekerjaan, semakin tertantang dan semakin menemukan cara untuk mengatasi stress yang kata orang harus dihindari, hehe.

Beberapa waktu ini, untuk mengurangi stress dalam menghadapi masalah, biasanya saya tersenyum tanpa sebab, hehe. Memang sepertinya ada penelitian tentang hubungan senyum dan relaksasi otot di wajah, tapi yang saya rasakan jauh lebih besar dari itu. Meskipun pekerjaan yang harus dilakukan tidak sedikit, jika dibarengi dengan senyuman (meskipun tanpa sebab), rasanya beban akan berkurang.

Metode ini sebenarnya beberapa kali saya lakukan ketika masih kuliah. Pada saat tugas-tugas kuliah menumpuk, deadline organisasi yang semakin dekat dan banyak, metode tersenyum pada diri sendiri memberi dampak yang cukup signifikan. Secara ilmiah, saya tidak berani menjamin apakah memang dampak yang saya rasakan diakibatkan reaksi syaraf terhadap senyuman atau hanya sugesti dari dalam diri saja. Tapi yang terjadi adalah, “menghadapi masalah dengan tersenyum” menjadi salah satu senjata andalan saya untuk terhindar dari stress. Hehe

Kamu mau coba metode ini? saya punya tips yang saya buat sendiri untuk menghadapi masalah dengan senyuman:

  1. Mulailah hari dengan pikiran yang positif. Pikiran yang positif akan menjadikan kita lebih mudah untuk tersenyum, serta menjadikan diri menjadi lebih nyaman.
  2. Jangan terpengaruh dengan kondisi teman-teman di sekitarmu. Terkadang kondisi orang-orang di sekeliling akan mempengaruhi diri kita. Jadi, tetap tenang dan jangan terpengaruh dengan kondisi buruk orang lain. Saya tidak meminta anda untuk acuh terhadap masalah orang lain, namun jangan terpengaruh. Stay Positive!
  3. Tambahi senyuman dengan sedikit senam wajah. Hal ini sepertinya bisa mengurangi ketegangan di urat-urat wajahmu. hehe
  4. Jangan malu dan takut dibilang gila. hehe.
  5. Stay connected with God! Sebenarnya ini yang paling penting, saya taruh di bagian paling akhir biar diingat.hehe

Terima kasih banyak sudah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat. 🙂